WIRAUSAHA
PERENCANAAN USAHA
Dosen : Muh.Wayong, Ph.D, M.ed.M
DISUSUN OLEH:
Zulkifli (20400115041)
Muhammad Nauval (20400115065)
Ary Putra Utama Akmas (20400115067)
Desy Harfani Hakim (20400115069)
Ahwandi Riswanto (20400115073)
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Rencana Usaha Kami. Rencana Usaha Kami ini telah kami susun dengan maksimal.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
Akhir kata kami berharap semoga Rencana Usaha Kami ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Gowa, Mei 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I (PENDAHULUAN)
a. Latar belakang
BAB II (PEMBAHASAN)
BAB III ( PENUTUP )
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat maka semakin meningkat pula kebutuhan mereka. Di era globalisasi ini manusia dituntut memiliki sumber daya yang berkualitas agar bisa bersaing dengan manusia lainnya sehingga dapat bertahan hidup dan meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Dalam hal ini kebutuhan hidup manusia yaitu, meliputi pangan, sandang, dan papan serta kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat pula terutama di negara berkembang. Salah satunya di Indonesia, pemenuhan kebutuhan pendidikan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Pendidikan sangat berperan penting untuk mengurangi kebodohan, meningkatkan potensi-potensi siswa didik, serta membentuk perilaku yang baik di masyarakat.
Ada dua jenis pendidikan yang dikenal di Indonesia, yaitu pendidikan formal (TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi/Universitas) dan pendidikan non formal (seperti kursus komputer, les Bahasa Inggris, maupun kegiatan beladiri). Pendidikan formal sudah jelas tujuannya untuk mendapatkan gelar kelulusan. Tetapi, Masyarakat cenderung mencari pendidikan alternatif selain pendidikan reguler seperti sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya. Sekolah dan pendidikan formal dianggap tidak cukup memberikan bekal pendidikan bagi masa depan.
Untuk itu lembaga kursus menjadi salah satu alternatif yang dipilih masyarakat untuk lebih menggali potensi yang dimiliki siswa didik, memperkaya ilmu dan memberikan pelajaran yang tidak sepenuhnya didapat anak didik dari sekolah. Mengenai permasalahan di atas, maka kami tertarik untuk melakukan studi kelayakan usaha dalam bidang jasa pendidikan. Kami berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk anak didik kami dengan biaya yang terjangkau untuk semua kalangan. Atau dengan kata lain, lembaga ini dapat memenuhi kebutuhan pendidikan setiap peserta didik tanpa menitik beratkan biaya yang menjadi beban para orangtua peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI USAHA
I. Nama Lembaga : Exact Choice (EC)
II. Penyelenggara
Lembaga ini didirikan dan diselenggarakan oleh 5 orang individu yang mempunyai kepedulian terhadap dunia pendidikan yang berkualitas, Desy Harfani Hakim, Ahwandi Riswanto, Ary Putra Utama Akmas, Muhammad Nauval dan Zulkifli
III. Tempat Penyelenggaraan
Lembaga ini menyelenggarakan pendidikan di Jalan Tun Abdul Razak
IV. Jenis Pendidikan
Ada dua jenis pendidikan yang kami selenggarakan, yaitu :
1. Kursus Komputer
Kursus ini merupakan program – program singkat yang dibagi dalam beberapa paket program sesuai kebutuhan masyarakat saat ini terhadap dunia komputerisasi.
2. Kursus Bahasa Inggris
Kursus ini mengajarkan bahasa Inggris, mulai dari usia dini sampai usia dewasa yang di bagi dalam level sesuai tingkatan.
VISI USAHA
Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mempersiapkan generasi yang cerdas dan mampu menjawab tuntutan jaman sehingga Sumber Daya Manusia di Indonesia
MISI USAHA
1. Mewujudkan sarana dan fasilitas pendidikan yang baik yang mampu menunjang aktifitas pendidikan yang telah direncanakan sehingga dapat mencetak lulusan yang berkualitas.
2. Memberikan pendidikan yang berkualitas kepada masyarakat.
3. Memberikan Alternatif pendidikan kepada masyarakat.
B. ANALISIS LINGKUNGAN PESAING
Adanya lembaga-lembaga bimbel ternama atau yang terlahir lebih dahulu tidak membuat kami pesimis karena faktanya lembaga kursus seperti ini masih banyak diminati.
Resiko yang dipertimbangkan dalam memulai dan mengembangkan usaha ini adalah harus mampu bersaing dengan lembaga bimbel lainnya. Hambatan ini dapat diminimalisir dengan cara melakukan suatu inovasi yang berbeda dari lembaga lainnya, baik itu dari segi pelayanannya, harga, tempat atau yang lainnya dengan metode pengajaran yang begitu mudah, praktis, tidak teoritis dan materi yang disajikan dalam bentuk percakapan atau diperagakan dengan gambar- gambar dan alat peraga, dengan permainan, cerita – cerita lucu, dengan lagu – lagu dan teka – teki. Maka belajar bahasa Inggris di lembaga kami ini akan terasa mudah dan menyenangkan. Karena dibimbing oleh instruktur – instruktur muda yang berpengalaman, dengan penuh keakraban dan penuh semangat. Peserta didik akan merasa nyaman dan bebas untuk berlatih, sehingga siswa tidak akan takut atau sungkan karena suasananya yang sangat akrab dan menyenangkan.
C. RENCANA PRODUKSI
I. Persyaratan Lokasi
a. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari perumahan penduduk
b. Lokasi mudah terjangkau dari pusat-pusat pemasaran
II. Rencana pemasaran
a. Target
Program-program dalam bimbingan belajar ini sengaja dibuka untuk anak TK, SD, SMP, SMA atau anak – anak yang ingin memiliki kemampuan bahasa Inggris ataupun keahlian di bidang komputer dengan cepat dan mudah. Baik bagi pemula maupun yang sudah pernah kursus. Dengan metode pengajaran yang begitu mudah, praktis, tidak teoritis dan materi yang disajikan disampaikan oleh staff pengajar yang berkualitas diharapkan siswa didik mampu menerima materi dengan baik.
b. Strategi pemasaran
1. Upaya promosi atau memperkenalkan produk bisnis kami kepada konsumen. Promosi yang kami lakukan tersebut konsisten, terus-menerus, dan dengan cara-cara kreatif sehingga para pelanggan tidak merasa bosan. Misalnya, mengirim pesan singkat kepada para customer jika sedang ada promo. Kami pula tidak lupa kehebatan word-of-mouth publicity.
2. Internet marketing.
c. Ringkasan pemilik
a. Biodata pemilik
Nama: Desy Harfani Hakim
Jabatan: Tutor 1
Tempat dan tgl lahir: Bantaeng, 21 Desember 1997
Alamat rumah: BTN. PAO-PAO PERMAI, Sungguminasa
No. telepon/Hp: 082349645602
Alamat E-mail: desyharfani@gmail.com
Pendidikan Terakhir: S1 Pendidikan Bahasa Inggris
b. Nama: Zulkifli
Jabatan: Tutor 2
Tempat dan tgl lahir: Talamangape, 09 September 1998
Alamat rumah: Talamangape, Bontonompo, Gowa
No. telepon/Hp: 082348311216
Alamat E-mail: zhulkifly079@gmail.com
Pendidikan Terakhir: S1 Pendidikan Bahasa Inggris
c. Nama: Muhammad Nauval
Jabatan: Tutor 3
Tempat dan tgl lahir: Ujung Pandang, 13 Mei 1997
Alamat rumah: JL. Tidung 5 Setapak V No.87
No. Telepon/Hp: 081245120516
Alamat E-mail: muhammadnauval2@gmail.com
Pendidikan Terakhir: S1 Pendidikan Bahasa Inggris
d. Nama: Ary Putra Utama Akmas
Jabatan: Tutor 4
Tempat dan tgl lahir: Bulukumba, 14 Februari 1997
Alamat Rumah: BTN. Manggarupi Permai, Jl. Mangka DG Bombong
No. Telepon/Hp: 082349917358
Pendidikan Terakhir: S1 Pendidikan Bahasa Inggris
e. Nama: Ahwandi Riswanto
Jabatan: Tutor 5
Tempat dan tgl lahir: Bantaeng, 12 April 1997
Alamat rumah: JL. Tun Abdul Razak
No. Telepon/Hp: 082395537475
Alamat E-mail: riswantoahwandi11gmail.com
Pendidikan Terakhir: S1 Pendidikan Bahasa Inggris
D. DATA FINANCIAL
I. Rencana pemodalan
Sumber modal dari hasil patungan kami Rp.16.000.000
II. Rencana Pengeluaran
Daftar
Harga
i. Biaya renovasi dan persiapan tempat kursus.
ii. Perabotan dan peralatan belajar mengajar.
iii. Peralatan computer
Rp. 3.000.000
Rp. 3.000.000
Rp. 10.000.000
16.000.000
III. Rencana pengeluaran Bulanan
Daftar
Harga
1. Rekening listrik, telepon, air
2. Penyusutan peralatan kantor
3. Iuran keamanan Rp. 300.000
Rp. 200.000
Rp. 100.000
Jumlah Rp. 600.000
E. DESKRIPSI KELAYAKAN ASPEK
I. Aspek Pemasaran
Adapun program yang ditujukan kepada pelajar tingkat TK sampai SMA adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Biaya Kursus bahasa inggris
No.
Level
Biaya
1. Pre Basic I (TK, SD) Rp 25.000,-
2. Pre Basic II (TK, SD) Rp 25.000,-
3. Pre Basic III (SD) Rp 30.000,-
4. Beginner (SD, SMP) Rp 30.000,-
5. Basic I (SD, SMP) Rp 30.000,-
6. Basic II (SD, SMP) Rp 30.000,-
7. Basic III (SMP, SMA) Rp 30.000,-
8. Pre Intermediate (SMP, SMA) Rp 40.000,-
9. Intermediate I (SMP, SMA) Rp 45.000,-
10. Intermediate II (SMP, SMA) Rp 50.000,-
11. Intermediate III (SMP, SMA) Rp 55.000,-
12. Advance I (SMP, SMA) Rp 60.000,-
13. Advance II (SMP, SMA) Rp 65.000,-
14. Advance III (SMP; SMA) Rp 65.000,-
Tabel 2. Biaya kursus computer
No Jenis Biaya
1 Aplikasi Perkantoran Rp. 70.000
2 Bahasa Pemrograman Rp. 70.000
3 Aplikasi Grafis Rp. 70.000
4 Software Database Rp. 70.000
5 Komputer Akuntansi Rp. 70.000
Waktu Kursus
No Kelas Waktu
1 Pagi 08.00 – 10.00
10.00 – 12.00
2 Malam 07.00 - 09.00
Semua pertemuan dilakukan secara reguler dua kali dalam seminggu dengan durasi 120 menit/ pertemuan.
II. Aspek Managemen
Kursus Exact Choice ini berangkat dari sebuah lembaga yang berdiri karena kemitraan, sehingga jumlah personil masih terbatas dan bahkan hasil rekruting dari lingkungan mitra kuliah (teman di perkuliahan). Tetapi nantinya sejalan dengan perkembangan perusahaan , maka harus ada perubahan baik system rekruting, jumlah personal dan stratifikasi serta kualifikasi tenaga yang dibutuhkan. Dalam pengertian ini, rekruting pekerja bertolak dari ukuran kualitas sumber daya manusia, dan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan yang ada di perusahaan. Kini tenaga kerja di tempat kami masih berjumlah lima orang, semuanya tutor, namun satu orang juga yang sebagai administrator. Walaupun dengan personil yang terbatas, namun kami dapat mengatasi kekurangan dengan menerapkan all in one job desk. Dalam pengertian setiap orang yang menempati posisi tertentu memiliki beberapa job desk yang bahkan tidak berkaitan dengan posisinya.
Dalam usaha ini, yang kami harapkan adalah kualitas bukan kuantitas. Walaupun terbatas, namun kami memiliki SDM yang berkualitas. Hanya dengan SDM yang berkualitas, lembaga ini akan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan kebutuhan untuk menjalankan tugasnya. Di samping itu, kami senantiasa berusaha untuk menetapkan pola strategi pemasaran yang dapat memenuhi kepuasan konsumen (costumer satisfaction). Untuk memenuhi SDM yang sesuai dengan tuntutan manajemen, kami menerapkan disiplin yang tinggi, sehingga dapat menangani pekerjaannya dengan efisien, mampu mengendalikan mutu dan meminimalisir resiko.
Walaupun bimbel ini berangkat dari usaha kemitraan, tetapi dalam pengelolaannya kami memberlakukan kaidah – kaidah manajemen modern. Berangkat dari system organisasi yang tergolong sederhana, kami membuat bangun organisasi dan tata kerja yang mampu menampung seluruh kegiatan perusahaan. Sehingga tanggung jawab tidak birokratis atau berbelit – belit namun jelas, terarah serta dapat dipertanggunngjawabkan.
III. Aspek Teknik Pelayanan
Dalam pelaksanaannya, kegiatan kursus ini akan lebih mendekatkan costumer satisfaction guna menjaga keloyalitasan costumernya. Ada beberapa hal yang menjadi key to success kami dalam menjaga keloyalitasan costumer, yaitu meliputi:
1. Tangibles
Artinya fasilitas fisik yang ditawarkan kepada konsumen. Dengan menempati ruko bangunan baru, suasana belajar akan terasa nyaman dan kondusif.
2. Reliability
Artinya konsisten dalam penampilan pelayanan dan keandalan pelayanan. Dalam membimbing pelajar, kami tidak hanya memberikan materi baku yang hanya terdapat di kursus ini, namun kami selalu membimbing mereka untuk menyelesaikan permasalahan mata pelajaran bahasa Inggris dan komputer di sekolah mereka. Seperti pembahasan PR yang diberikan guru sekolah, pembahasan soal – soal menjelang ujian sekolah.
3. Responsiveness
Artinya kesigapan dan kecepatan penyedia jasa dalam menyelesaikan masalah. Dengan melakukan rapat rutin seminggu sekali, diharapkan tercipta rentang koordinasi yang solid. Sehingga jika suatu saat kursus kita memiliki permasalahan, maka dengan cepat masalah tersebut dapat terdeteksi dan dengan cepat dicari pemecahannya.
4. Assurance
Artinya kemampuan dan ketrampilan petugas, keramahan, kepercayaan dan keamanan.
5. Emphaty
Artinya mudah dimengerti., mudah dipahami, dan pemahaman terhadap keinginan konsumen. Dengan menempatkan tenaga pengajar yang professional, diharapkan dapat memberikan materi yang menunjang kemampuan siswa didik.
Dengan menerapkan penilaian pada dimensi –dimensi kualitas tersebut di atas, maka diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya:
1. Hubungan antara perusahaan dan para pelanggannya menjadi harmonis.
2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
3. Dapat mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
4. Membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan perusahaan.
5. Image perusahaan menjadi baik di mata pelanggan.
6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian kami di atas, kami memiliki harapan-harapan untuk perkembangan lembaga kursus ini selanjutnya. Kami berharap dalam kurun waktu satu tahun lembaga ini sudah di kenal masyarakat Jakarta Pusat. Selain itu, besar harapan kami untuk membuka cabang-cabang Exact Choice lainnya di tahun-tahun berikutnya.
Selasa, 01 Agustus 2017
Wirausaha
Minggu, 29 Januari 2017
Artikel Globalisasi Teknologi
Kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat membuat bola dunia terasa makin kecil dan ruang seakan menjadi tak berjarak lagi. Cara pandang terhadap duniapun sudah berubah. Teknologi informasi dalam perubahan cara pandang itu telah menjadi ujung tombak berbagai perubahan lain yang dirasakan manusia di muka bumi ini. Namun, perubahan macam apa yang diciptakan dan ke arah mana perubahan itu berjalan? Siapa yang diuntungkan dan siapa pula yang dirugikan?
Globalisasi : Proses yang Adil?
Globalisasi adalah satu kata yang mungkin paling banyak dibicarakan orang selama lima tahun terakhir ini dengan pemahaman makna yang beragam. Namun, apa yang dipahami dengan istilah globalisasi akhirnya membawa kesadaran bagi manusia, bahwa semua penghuni planet ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan begitu saja satu sama lain walau ada rentang jarak yang secara fisik membentang. Dunia dipandang sebagai satu kesatuan dimana semua manusia di muka bumi ini terhubung satu sama lain dalam jaring-jaring kepentingan yang amat luas.
Pembicaraan mengenai globalisasi adalah pembicaraan mengenai topik yang amat luas yang melingkupi aspek mendasar kehidupan manusia dari budaya, politik, ekonomi dan sosial. Globalisasi di bidang ekonomi barangkali kini menjadi kerangka acuan dan sekaligus contoh yang saat ini paling jelas menggambarkan bagaimana sebuah kebijakan global bisa berdampak pada banyak orang di tingkat lokal, sementara wacana globalisasi dalam hal yang lain mungkin tidak begitu mudah diamati secara jelas.
Contoh yang bisa diangkat mungkin adalah perdagangan internasional, kebijakan dana moneter internasional hingga ijin operasi perusahaan multi nasional yang menunjukkan bahwa mata-rantai-dampaknya pada akhirnya akan berakhir pada pelaku ekonomi lokal, baik positif maupun negatif. Desain globalisasi ekonomi sendiri misalnya, memang pada awalnya dinilai beritikad positif, yaitu menaikkan kinerja finansial negara-negara yang dianggap masih terbelakang secara ekonomi dengan melakukan kerjasama perdagangan dan kebijakan industri.
Namun, dampak negatifnya ternyata tidak bisa dielakkan ketika penyesuaian kebijakan global itu tidak bisa dilakukan di tingkat lokal. Situasi menang-menang yang ingin dicapai berubah menjadi situasi kalah-menang yang tak terhindarkan bagi pelaku ekonomi lokal. Kasus fenomenal seperti yang tak kunjung usai, penjualan perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah baru-baru ini, atau kasus lain yang nyaris tidak terliput secara luas seperti hilangnya jutaan plasma nuftah di hutan dan Papua Barat, menunjukkan hal itu dengan jelas. Tentu masih ada banyak yang lain.
Teknologi Informasi (TI)
Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat, tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi, hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP), informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang.
Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam, melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street, AS, dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. Demikian juga peragaan busana di Paris, yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo, Sulawesi.
TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu, TI disamaratakan dengan Internet. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru, yaitu dunia “maya”. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer, khususnya mikro-prosesor, dan infrastruktur komunikasi, TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan.
Konsep perdagangan elektronik melalui internet, yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal –dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu—ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. Jika e-Commerce “hanya” memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line, atau memungkinkan seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya, maka dengan e-Business, transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama.
Karena itu, wajar jika pemerintah negara-negara Asia, negara yang dianggap kurang maju, kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diam-kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Bagi Asia, yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik, keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. Lebih buruk lagi, krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu.
TI yang Mendorong Perubahan Sosial?
Sampai dengan bulan Juni 1999, masih menurut sumber dari Kontan On-line, dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa, jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit. Itu berarti hanya 0,95% dari jumlah penduduk. Angka ini masih sangat kecil jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial.
Namun, angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI, khususnya pemanfaatan jaringan internet, bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah, lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu, TI disikapi dengan penuh kebingungan, seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat “Kudatuli” –kerusuhan dua puluh tujuh juli—yang menghebohkan itu. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. Dan seperti biasanya, senjata lebih berkuasa daripada teknologi.
Namun, kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil “jumawa” dalam episode jatuhnya Orde Baru. Konon, dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan memanfaatkan kecanggihan TI ini. Bahkan, komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager, telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu, 1998 dan 1999. TI, secara langsung atau tidak, berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Indonesia yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya.
Tapi, entah dimana salahnya, pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia, menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia, yang tentu ada dalam mainstream TI. Dengan Kepres itu, tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI.
Padahal, justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. Telkom. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. Dalam PP No 52/2000 misalnya, apabila seseorang ingin mendirikan warung internet, untuk mengurus ijin pendirian warnet, harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). Jelas, bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI.
Dalam hal politik, meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja, yang pada masa lalu tidak terlihat –tapi bukannya tidak ada. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat, pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah, melainkan pada legitimasi masyarakat.
Pilihan Strategi Pemanfaatan TI
TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat, pelaku ekonomi dan negara. Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar, maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. Tanpa TI, informasi tidak ada, dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti.
Globalisasi, dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI, jelas adalah keniscayaan. Tak ada jalan untuk mundur lagi. Menurut Amartya Sen, pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998, teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi.
Bagaimana memulai? Pertama, dari yang lokal, yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Dengan populasi mencapai 2,1 juta unit usaha yang “tahan banting” –sudah teruji dalam krisis ekonomi—maka pengusaha kecil, menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal, sumber daya manusia dan keahlian.
DAFTAR PUSTAKA
Artikel Globalisasi Teknologi ( online), http://definisi.org/artikel-globalisasi-teknologi Diakses tanggal 17 Januari 2017 jam 15:48